Back

Lagi FOMO? Ini Cara Bijak Menjaga Dompet agar Tidak Boncos

Written by: Easycash Team
23 August 2026
Lagi FOMO? Ini Cara Bijak Menjaga Dompet agar Tidak Boncos

Flash sale tinggal 2 jam lagi, teman-teman sudah checkout, dan media sosial dipenuhi produk yang katanya wajib punya. Akhirnya, kamu melakukan check out tanpa berpikir panjang. Inilah yang dinamakan FOMO, respon wajar dari kondisi tersebut. Jika dibiarkan, FOMO bisa menguras dompet. Artikel ini akan membahas cara praktis mengelolanya.

Apa Itu FOMO? Mengapa Bisa Membuat Dompet Boncos?

FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu perasaan cemas atau takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dialami atau dimiliki orang lain. Dalam konteks keuangan, FOMO paling sering muncul dalam bentuk dorongan belanja yang datang bukan dari kebutuhan nyata, melainkan dari rasa takut “ketinggalan” atau "kalah tren".

Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kamu sedang dikendalikan oleh Fear of Missing Out saat berbelanja. Pertama, kamu membeli sesuatu hanya karena sedang viral, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Kedua, kamu merasa harus segera checkout karena takut kehabisan, padahal produk serupa selalu tersedia. Ketiga, setelah barang datang, kamu justru merasa datar atau bahkan menyesal karena ternyata tidak sepenting yang dibayangkan.

FOMO bisa berbahaya secara finansial karena sifatnya yang kumulatif. Satu keputusan impulsif mungkin terasa kecil, tapi jika pola ini berulang setiap minggu, total pengeluaran yang tidak terencana dalam sebulan bisa jauh melampaui anggaran yang sudah disusun.

Baca Juga: 10 Aplikasi Pencatat Keuangan Gratis Terbaik di Indonesia 2026

Indikasi FOMO dan Cara Mengatasinya

Inilah beberapa situasi Fear of Missing Out yang paling sering terjadi dan beberapa saran untuk mengatasinya:

1. Checkout Impulsif Saat Promo Tanggal Kembar

Banyak platform e-commerce yang menawarkan promo besar di saat tanggal kembar seperti 7.7, 8.8, 9.9,11.11 dan lain sebagainya. Dari luar mungkin promo ini terlihat menggiurkan, tapi justru inilah strategi e-commerce untuk menciptakan urgensi belanja online dengan impulsif.

Saran untuk mengatasi: sebelum promo mulai, kamu bisa menyusun daftar belanja yang benar-benar dibutuhkan dalam skala prioritas. Kemudian, hanya beli barang dalam daftar tersebut, dan hindari barang lain yang kurang penting.

2. Belanja Balas Dendam Setelah Gajian

Perasaan lega saat gajian tiba, seringkali memicu belanja yang tidak terencana, sebagai bentuk balas dendam atas perasaan berhari-hari menunggu gajian. Akhirnya, pengeluaran pun membengkak karena kamu merasa bebas berbelanja apapun karena sudah ada pemasukan.

Saran untuk mengatasi: alokasikan dana khusus di awal bulan sebelum gajian, agar bisa belanja bijak dan tidak membuat anggaran boncos. Karena dengan cara ini, kamu sudah memiliki batas dana yang jelas untuk belanja.

3. Tergoda Membeli karena TikTok dan Media Sosial

TikTok Shop dan fitur belanja di media sosial lain membuat jarak antara "melihat produk" dan "membeli produk" menjadi sangat pendek. Algoritma juga bekerja untuk menampilkan konten yang sesuai dengan minat kamu, sehingga godaannya terasa sangat personal dan relevan.

Saran untuk mengatasi: terapkan aturan 24 jam. Jika tertarik membeli sesuatu dari video yang baru ditonton, tutup aplikasinya dan tunggu satu hari penuh. Setelah itu, evaluasi apakah itu hanya keinginan semata atau benar-benar butuh.

Memberi jeda selama 1 (satu) hari penuh sebelum membeli sesuatu, biasanya akan membuat urgensi membeli barang tersebut jadi hilang. Dengan begitu, keputusan pembelian yang kamu lakukan nantinya bisa lebih tepat, terarah, dan bukan didasarkan pada impulsif semata.

4. Pengeluaran Kecil Sehari-hari yang Lama-lama Menumpuk

Kopi kekinian Rp35.000, snack impulsif Rp25.000, ongkir pesanan yang tidak direncanakan Rp15.000. Masing-masing terasa tidak signifikan, tapi jika dikalikan 20 hari dalam sebulan, total bisa mencapai Rp1.500.000 tanpa disadari.

Saran untuk mengatasi: selalu catat pengeluaran, dari yang paling kecil sekalipun. Karena daftar pengeluaran ini bisa menjadi rem, yang akan membantu kamu berhati-hati untuk mengeluarkan uang, agar tidak melebihi anggaran.

5. Pengeluaran Saat Hari Raya dan Tekanan Kebutuhan Keluarga

Hari Raya atau hari besar lainnya memang bermakna, tapi juga bisa membawa tekanan sosial tersendiri. Inilah yang seringkali memicu FOMO, akibat tekanan ekspektasi dan kebutuhan keluarga.

Saran untuk mengatasi: menetapkan anggaran total untuk momen tersebut jauh sebelum hari H, lalu patuhi angka itu. Komunikasikan juga kepada keluarga inti jika ada batasan anggaran yang perlu dipahami bersama.

5 Prinsip Belanja agar Dompet Tetap Aman

Inilah beberapa prinsip belanja yang bisa kamu terapkan agar tidak terlena dengan FOMO:

Prinsip 1: Tunggu 24 Jam Sebelum Checkout

Selalu tunggu 24 jam dulu sebelum belanja. Jika besok kamu masih mau beli, mungkin memang dibutuhkan. Jika sudah lupa, berarti itu hanya keinginan sesaat yang sudah berlalu.

Prinsip 2: Bedakan Antara Kebutuhan, Keinginan, dan Gengsi

Kebutuhan adalah sesuatu yang berdampak nyata jika tidak dipenuhi. Keinginan adalah sesuatu yang menyenangkan tapi tidak mendesak. Sementara gengsi adalah sesuatu yang dibeli karena ingin terlihat tertentu di mata orang lain. Tiga kategori ini membutuhkan perlakuan yang sangat berbeda dalam anggaran.

Prinsip 3: Tetapkan Budget Bulanan untuk Belanja Online dan Hiburan

Mengatur keuangan pribadi bukan berarti tidak bisa bersenang-senang atau belanja. Hanya saja, kesenangan tersebut harus di dalam batas yang sudah disepakati dengan diri sendiri, agar tidak membebani finansial di kemudian hari.

Prinsip 4: Lihat Total Pengeluaran, Bukan Hanya Diskonnya

Diskon 50% pada barang yang tidak dibutuhkan sama artinya dengan tetap membuang uang, hanya dengan kecepatan yang lebih lambat. Fokus pada berapa yang keluar dari dompet, bukan berapa yang "dihemat".

Prinsip 5: Jangan Sungkan Mengatakan “Saya Pikir-pikir Dulu”

Baik kepada diri sendiri, kepada teman yang mengajak belanja, maupun kepada penjual yang menekan untuk segera memutuskan. Kemampuan menunda keputusan adalah salah satu keterampilan finansial yang paling berharga dan paling jarang dilatih.

Baca Juga: Top 10 Pinjol OJK yg Gampang Cair di Indonesia 2026

Bagaimana Jika Benar-Benar Ada Kebutuhan Dana Mendesak?

Saat bisa mengelola FOMO dengan baik, maka kamu bisa membuat keuangan lebih terkendali. Hanya saja, memang kami menyadari bahwa kehidupan, khususnya finansial tidak selalu bisa direncanakan sepenuhnya. Ada kalanya ada kebutuhan mendesak yang muncul diluar perkiraan.

Untuk kebutuhan mendesak seperti ini, pinjaman yang diambil dengan pertimbangan matang bisa jadi solusi. Kami dari Easycash hadir sebagai pinjaman daring berizin dan diawasi OJK yang bisa membantu kamu. Proses pengajuan sepenuhnya digital. Di Easycash, pinjaman pun bisa kamu ajukan dalam waktu 3 menit dan pencairan ke rekening bank dalam waktu kurang dari 24 jam. Pilihan limit pinjaman yang tersedia pun beragam, bahkan sampai Rp100.000.000, dengan tenor sampai 12 bulan.

Satu hal yang perlu selalu kamu ingat, pinjaman adalah alat untuk membantu menyelesaikan kebutuhan mendesak, bukan untuk memenuhi dorongan FOMO. Oleh karena itu, sebaiknya pinjaman digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan bayar masing-masing.

Loan Simulator
Calculate your estimated installment in seconds!
Easycash
Loan Amount (IDR)
2,000,000
100,000 100,000,000
Loan Period
3  Months
1 Month 12 Months
Monthly installment
Interest included

Kesimpulan

FOMO tidak akan pernah hilang sepenuhnya karena memang merupakan bagian dari cara otak merespons lingkungan sosial. Yang bisa dilatih adalah jarak antara dorongan itu dan keputusan yang diambil. Semakin panjang jeda itu, semakin besar kemungkinan keputusan dibuat berdasarkan kebutuhan nyata, bukan tekanan sesaat. Mulai dari satu perubahan kecil hari ini, dan dompetmu akan berterima kasih di akhir bulan.

Download
Download App
Google Play
Google Play QR
App Store
App Store QR